Bunga Mawar dan Pohon Cemara

By Indranata

images.jpg

Konon di tengah hutan, bunga mawar menertawakan pohon cemara seraya berkata: “Meskipun anda tumbuh begitu tegap, tetapi anda tidak memiliki keharuman sehingga tidak dapat menarik kumbang dan lebah untuk mendekat.”

Pohon cemara diam saja. Demikianlah bunga mawar dimana-mana menyiarkan dan menceritakan tampak buruk pohon cemara, sehingga membuat pohon cemara tersingkir dan menyendiri di tengah hutan.

Ketika musim dingin datang dan turun salju yang sangat lebat, bunha mawar yang sombong sangat sulit mmpertahankan kehidupannya. Demikian pula dengan pohon dan bunga-bunga yang lainnya. Hanya pohon cemara yang masih tegak berdiri ditengah badai dingin yang menerpa bumi.

Ditengah malam yang sunyi, salju berbincang-bincang dengan pohon cemara.

Salju berkata; “Setiap tahun saya datang ke bumi ini, selalu melihat kemakmuran dan keramaian di bumi berubah wajah. Hanya gersang dan sunyi senyap yang menyelimuti bumi. Namun, kamulah satu-satunya yang dapat melewati ujian saya dan berdiri tegap hingga dapat menahan segala macan tekanan alam. Begitu pula alam kehidupan dan manusia selalu mengalami perubahan.”

Demikianlah pembicaraan menarik antara pohon cemara dan salju yang terjadi di tengah malam pada musim dingin.

Sedih dan gembira selalu datang silih berganti; hanya dengan keteguan jiwa dan pikiran, kebahagiaan itu dapat diraihnya. Caci maki dan fitnah tidak dapat menjatuhkan orang yang kuat.

Di dalam ungkapan Timur sering terdapat kata-kata:
“Menengadah ke langit dan membuang ludah.” Dan “Menabur debu dengan angin yang berlawanan.”

Ini semua mengisahkan kebodohan-kebodohan yang dilakukan seseorang dan pada akiranya mencelakakan dirinya sendiri. Menghadapi fitnahan dan celaan, hendaknya seseorang berlapang dada bagaikan langit besar yang tak betepi.

Cuaca terang dan berawan selalu silih berganti. Belajar bagaikan cermin yang jernih dapat melihat keadaan sebenarnya.

Bunga mawar hanya merasakan kepuasan dan kecongkakkan sejenak, tetapi pohon cemara dapat menghadapi, menerima dan menahan diri dengan tenang dan sabar. Kita harus belajar dari ifat pohon cemara yang tegar menahan serangan, baik serangan yang bersifat tindakan, ucapan maupun pikiran, dan menjadikannya sesuatu yang sejuk, hangat dan damai.

Tinggalkan Balasan