Apartment 300jutaan dikawasan Bundaran HI

November 7, 2008 oleh Indranata

Segera dipasarkan hunian apartment kelas menengah di kawasan bundaran HI. Kisaran harga dimulai dari 300 jutaan hingga 600 jutaan. Harga ini tersebut tergolong sangat murah untuk kawasan segitiga emas di Ibukota Jakarta. Nama apartment tersebut adalah “Jakarta Residence” tahap 2. Mengingat sejarah peminat yang sangat antusias untuk tahap pertamanya yang terjual habis dalam kurun waktu 3 bulan. Proyek yang dikembangkan oleh Agung Podomo ini akan kembali mengukir sejarah yang pernah diraih pada tahap pertamanya. Untuk informasi lebih lanjut bisa meghubungi NATA di nomor 021-92193622 / 0818-07388872

I Don’t Want to Hate You

Maret 22, 2008 oleh Indranata

This time I decide
To walk alone
In the main road
walk to left you far behind
Looking for the next stop

I see through the sky
Waiting for the next sign
Hope someone will guide me
Into the sky-high

Hope I can release
This heavy chain
Soo I can fell free
Fly into the sky

Don’t want to hate you
Don’t want to see you again
Don’t want to remembering you again
Hope Teardrops will stop soon

I believe
There is something will always right
Time will always right
Sun will always bright
There will be always have a place to stop by

By: Indranata. G

True Story… What’s wrong with modern life…??

Maret 16, 2008 oleh Indranata

Kisah nyata…
Seorang anak dibesarkan dan dimanja dengan kasih sayang orang tua yang berlimpah. Anak itu disekolahkan di sekolahan mahal dan bergengsi demi untuk masa depan yang cerah dan menjanjikan.

Disaat anak itu beranjak remaja. Sang anak dikuliahkan di kuliah favorite di Amerika. Dan sang anak mengambil jurusan hukum. Ketika ia lulus orang tuanya menyuruhnya pulang ke kampung halamannya di indonesia. Tapi sang anak menolak. Ia tidak ingin pulang ke kampung halamannya, karena sudah betah di sana. Tanpa basa basi orangtuanya beserta
kakak si anak menyusul ke Amerika dengan maksud membawa anaknya pulang.

Tapi apa yang terjadi sesampainya disana, sang anak berkata dengan nada tidak sopan kepada orangtuanya. “Untuk apa datang kesini?” Melihat kelakuan itu kakaknya spontan ingin menghajar dia. Tapi kakanya mengurungkan niat demi menjaga perasaan orangtuanya agar tidak sedih melihat anak-anaknya saling berkelahi. Orangtuanya dan kakaknya menginap sementara disana. Selama disana sang anak tidak menghormati orangtuanya, bahkan memperlakukan orangtuanya seperti pembantu. Orangtuanya memasak, mencuci pakaian, mencuci piring, dan membereskan rumah si anak. Lama melihat hal itu kakaknya naik pitam. Dan tak dapat lagi membendung amarah di hatinya. Dia menghajar anak itu (adiknya) habis2an. Lalu anak itu melaporkan kejadian itu ke
kantor polisi. Dan alhasil kakaknya di masukkan penjara atas tuduhan penganiayaan. Melihat hal itu orangtuanya bercucuran air mata…

Kisah diatas mewakilkan banyak kejadian yang serupa di jaman yang modern ini. Kita orang timur selalu mendidik anak dengan kedisiplinan yang tinggi. Dan memukuli anak untuk mengajarkannya supaya baik itu dirasa perlu. Haruskah kita mengikuti budaya barat yang menganut sistim individualis? Disana remaja di atas sejak berumur 17 tahun
sudah pisah tempat tinggal dengan orangtuanya. Berbeda dengan orang timur yang condong menganut sistim kekeluargaan. BAGAIMANA MENURUT ANDA?

Good morning World…!!!

Maret 15, 2008 oleh Indranata

morning-view2.jpg

Selamat pagi dunia. Sudah lama ga bangun pagi. Seger juga rasanya. Hmmm… Gue bener2 mendambakan saat-saat seperti ini. Bangun pagi, beresin tempat tidur, sikat gigi, cuci muka, melakukan olahraga ringan, nyeduh teh, trus naik ke lantai paling atas sambil bawa koran pagi. Duduk di balkon lantai 5 dengan city view kota Jakarta di pagi hari yang masih berkabut, baca koran sambil minum teh. Wah bener-bener top dech. Hahaha…

Meditasi

Maret 3, 2008 oleh Indranata

 

meditation.jpg


Ada empat murid yang bermaksud melakukan meditasi keheningan selama tujuh hari di sebuah biara. Semasa masa meditasi mereka semua sepakat untuk tidak saling berbicara.


Pada hari pertama, semuanya diam. Meditasi mereka berlangsung khusyu. Namun ketika malam mulai tiba, nyala lampu lampion menjadi remang-remang. Salam seorang murid tidak bisa menahan diri dan berteriak pada pelayan biara, “Pelayan, tolong betulkan lampu itu.”


Murid kedua heran mendengar suara temannya. Ia lalu berbisik, “Ssstt, bukankah kita tidak boleh berbicara?”


Melihat hal ini murid ketiga menegur, “Kalian berdua bodoh sekali. Mengapa kalian berbicara?”


Murid keempat tersenyum-senyum sendiri, “Hm, sayalah satu-satunya yang tidak berbicara.” Katanya menyimpulkan.


Terkadang di saat kita menertawakan kesalahan orang lain, kita pun sedang melakukan kesalahan yang sama.

Bunga Mawar dan Pohon Cemara

Maret 3, 2008 oleh Indranata

images.jpg

Konon di tengah hutan, bunga mawar menertawakan pohon cemara seraya berkata: “Meskipun anda tumbuh begitu tegap, tetapi anda tidak memiliki keharuman sehingga tidak dapat menarik kumbang dan lebah untuk mendekat.”

Pohon cemara diam saja. Demikianlah bunga mawar dimana-mana menyiarkan dan menceritakan tampak buruk pohon cemara, sehingga membuat pohon cemara tersingkir dan menyendiri di tengah hutan.

Ketika musim dingin datang dan turun salju yang sangat lebat, bunha mawar yang sombong sangat sulit mmpertahankan kehidupannya. Demikian pula dengan pohon dan bunga-bunga yang lainnya. Hanya pohon cemara yang masih tegak berdiri ditengah badai dingin yang menerpa bumi.

Ditengah malam yang sunyi, salju berbincang-bincang dengan pohon cemara.

Salju berkata; “Setiap tahun saya datang ke bumi ini, selalu melihat kemakmuran dan keramaian di bumi berubah wajah. Hanya gersang dan sunyi senyap yang menyelimuti bumi. Namun, kamulah satu-satunya yang dapat melewati ujian saya dan berdiri tegap hingga dapat menahan segala macan tekanan alam. Begitu pula alam kehidupan dan manusia selalu mengalami perubahan.”

Demikianlah pembicaraan menarik antara pohon cemara dan salju yang terjadi di tengah malam pada musim dingin.

Sedih dan gembira selalu datang silih berganti; hanya dengan keteguan jiwa dan pikiran, kebahagiaan itu dapat diraihnya. Caci maki dan fitnah tidak dapat menjatuhkan orang yang kuat.

Di dalam ungkapan Timur sering terdapat kata-kata:
“Menengadah ke langit dan membuang ludah.” Dan “Menabur debu dengan angin yang berlawanan.”

Ini semua mengisahkan kebodohan-kebodohan yang dilakukan seseorang dan pada akiranya mencelakakan dirinya sendiri. Menghadapi fitnahan dan celaan, hendaknya seseorang berlapang dada bagaikan langit besar yang tak betepi.

Cuaca terang dan berawan selalu silih berganti. Belajar bagaikan cermin yang jernih dapat melihat keadaan sebenarnya.

Bunga mawar hanya merasakan kepuasan dan kecongkakkan sejenak, tetapi pohon cemara dapat menghadapi, menerima dan menahan diri dengan tenang dan sabar. Kita harus belajar dari ifat pohon cemara yang tegar menahan serangan, baik serangan yang bersifat tindakan, ucapan maupun pikiran, dan menjadikannya sesuatu yang sejuk, hangat dan damai.

Permennya Lupa Dimakan

Maret 3, 2008 oleh Indranata

lol.jpg

 

 

Alkisah ada dua orang anak laki-laki, Bob dan Bib, yang sedang melewati lembah permen lolipop yang berwarna-warni dengan aneka rasa. Permen-permen yang terlihat seperti berbaris itu seakan menunggu tangan-tangan kecil Bob dan Bib untuk diambil dan dinikmati kelezatannya.

Bob sangat kegirangan melihat banyaknya permen lolipop yang bisa diambil. Maka ia pun sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut. Ia mempercepat jalannya supaya bisa mengambil permen lolipop lainnya yang terlihat sangat banyak didepannya. Bob mengumpulkan sangat banyak permen lolipop yang ia simpan didalam tas karungnya. Ia sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut tapi sepertinya permen-permen tersebut tidak pernah habis maka ia memacu langkahnya suoaya bisa mengambil semua permen yang dilihatnya.

Tanpa terasa Bob sampai di ujung jalan lembah permen lolipop. Dan melihat gerbang bertuliskan “Selamat Jalan.” Itulah batas akhir lembah oermen lolipop. Di ujung jalan, Bob bertemu seorang lelaki penduduk sekitar. Lelaki itu bertanya kepada Bob, “Bagaimana perjalanan kamu di lemah permen lolipop?” Apakah permen-permennya lezat? Apakah kamu mencoba yang rasa jeruk? Itu rasa yang paling disenangi. Atau kamu lebih menyukai rasa mangga? Itu juga sangat lezat.” Bob terdiam mendengar pertanyaan lelaki tadi. Ia merasa sangat lelah dan kehilangan tenaga. Ia telah berjalan sangat cepat dan membawa begitu banyak permen lolipop yang terasa berat didalam tas karungnya. Tapi ada satu hal yang membuatnya merasa terkejut dan ia pun menjawab pertanyaan lelaki itu, “Permennya saya lupa makan.”

Tak berapa lama kemudian, Bib sampai di ujung jalan lembah permen lolipop. “Hai Bob! Kamu berjalan cepat sekali. Saya memanggil-manggil kamu tapi kamu sudah sangat jauh di depan saya.” “Kenapa kamu memanggil saya?” tanya Bob. “Saya ingin mengajak kamu duduk dan makan permen anggur bersama. Rasanya lezat sekali. Saya juga menikmati pemandangan lembah, indah sekali!” Bib bercerita panjang lebar kepada Bob. “Lalu tadi ada seorang kakek tua yang sangat kelelahan. Saya temani dia berjalan. Saya beri dia beberapa permen yang ada di tas saya. Kami makan bersama dan dia banyak menceritakan hal-hal yang lucu. Kami tertawa bersama.” Bib menambahkan.

Mendengar cerita Bib, Bob menyadari betapa banyak hal yang telah ia lewatkan dari lembah permen lolipop yang sangat indah. Ia terlalu sibuk mengumpulkan permen-permen itu. Tapi ia pun sampai lupa memakannya dan tidak punya waktu untuk mnikmati kelezatannya karena ia begitu sibuk memasukkan semua permen itu ke dalam tas karungnya.

Di akhir perjalanannya di lembah permen lolipop, Bob menyadari suatu hal dan ia bergumam kepada dirinya sendiri, “Perjalanan ini bukan tentang berapa banyak permen yang telah saya kumpulkan. Tapi tentang bagaimana saya menikmatinya dengan berbagi dan berbahagia.” Ia pun berkata dalam hati. “Waktu tidak bisa diputar kembali.” Perjalanan di lembah lolipop sudah berlalu dan Bob pun harus melanjutkan kembali perjalanannya.

Dalam kehidupan kita, banyak hal yang ternyata kita lewati begitu saja. Kita lupa untuk berhenti sejenak dan menikmati kebahagiaan hidup. Kita menjadi Bob di lembah permen lolipop yang sibuk mengumpulkan permen tapi lupa untuk menikmatinya dan menjadi bahagia.

Pernahkah anda bertanya kapan waktunya untuk merasakan bahagia? Jika kita tanyakan pertanyaan tersebut kepada para klien saya, biasanya mereka menjawab, “Saya akan bahagia nanti… nanti pada saat sudah menikah… nanti pada waktu saya memiliki rumah sendiri… nanti pada saat suami saya lebih mencintai saya… nanti pada saat saya telah meraih semua impian saya… nanti pada saat penghasilan sudah sangat besar…”

Pemikiran ‘nanti’ itu membuat kita bekerja sangat keras di saat ‘sekarang.’ Semuanya itu supaya kita bisa mencapai apa yang kita konsepkan tentang masa ‘nanti’ bahagia. Terkadang jika saya renungkan hal tersebut, ternyata kita telah mengorbankan begitu banyak hal dalam hidup ini untuk masa ‘nanti’ bahagia. Ritme kehidupan kita menjadi sangat cepat… target-target tinggi yang harus kita capi, yang anehnyakita sendirilah yang membuat semua target itu… tetapi semuanya itu tidak pernah terasa memuaskan dan membahagiakan.

Uniknya, pada saat kita memelankan ritme kehidupan kita; pada saat kita duduk menikmati keindahan pohon bonsai di beranda depan, pada saat kita mendengarkan cerita lucu anak-anak kita, pada saat makan malam bersama keluarga, pada saat kita duduk bermeditasi atau pada saat membagikan beras dalam acara bakti sosial tanggap banjir, terasa hidup menjadi lebih indah.

Jika saja kita mau memelankan ritme hidup kita dengan penuh kesadaran, memelankan ritme makan kita, memelankan ritme jalan kita dan menyadari setiap gerak tubuh kita, berhenti sejenak dan memperhatikan tawa indah anak-anak bahkan menyadari setiap hembusan nafas maka kita akan menyadari begitu banyak detil kehidupan yang begitu indah dan bisa disyukuri. Kita akan merasakan ritme yang berbeda dari kehidupan yang ternyata jauh lebih damai dan tenang. Dan pada saat akhirnya akan membawa kita mnjadi lebih bahagia dan bersyukur seperti Bib yang melewati perjalanannya di lembah permen lolipop.

 

Old Memories

Desember 17, 2007 oleh Indranata

Kadang bila aku berhenti di suatu tempat yang tak asing.
Aku sempat termenung.
“Rasanya sudah lama sekali aku tidak mengunjungi tempat ini.”
“Rasanya dulu tempat ini lebih luas dari sekarang. Dan kursi serta mejanya lebih besar.”
“Banyak hal yang berubah dari tempat ini. Tapi aku tau, ini tempat yang sama seperti dulu.”
“Masa kecilku kulewati di tempat ini. Masa kecil yang bahagia, masa-masa yang penuh keceriaan. Penuh canda tawa dan senyuman.” ^_^
“Aku… pernah duduk dikursi ini.” Kataku sambil menyentuhkan ujung jariku pada sandaran kursi.
“Kursi yang berbeda, tapi tempat yang sama.”
“Betapa indahnya masa-masa itu. Sudah hampir 20 tahun tempat ini kutinggalkan.”
“Dan entah perasaan apa yang membawaku ke tempat ini kembali.”
Sambil kududuki kursi itu dan mengingat-ingat kembali masa-masa selama berada di sekolah lamaku. ^_^

Arti Kesedihan

Desember 17, 2007 oleh Indranata

Bila saat ini kau sedang sedih, pernahkah kau berfikir, apakah arti dari kesedihan itu?
Mengapa kita harus mengalaminya bila kita bisa membiarkan hal tersebut berlalu pada detik itu pun.
“Kesedihan itu timbul karena diri kita sendiri” Pikiran kitalah yang membuat kita berada dalam kesedihan.
Cobalah renungkan arti kalimat itu. Bila kamu bisa menemukan jawaban dari kalimat tersebut,
kamu akan berada setingkat lebih dewasa dalam berfikir, lebih bijaksana.
^_^

Wise word for today…!!!

Desember 17, 2007 oleh Indranata

Tekadang kita harus bersikap tegar dan kuat.
Walau dalam kondisi dan situasi apapun kita harus percaya bahwa segala masalah pasti ada jalan keluarnya.
Selama kita percaya, maka harapan akan selalu ada. Dan kita harus bejuang untuk mendapatkannya.
Berjuang pantang menyerah. Bekerja dengan pola pikir yang terarah. Cerdas dan cermat. SMART.